Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teori Sastra Marxisme


Secara etimologi  kata marxisme berasal dari dua kata, yaitu ‘marx’ diambil dari nama tokoh marxisme sendiri yaitu Karl Marx dan ‘isme’ berarti paham atau penganut, jadi Marxisme adalah paham yang berpegang pada prinsip Marx. Sedangkan secara terminologi marxisme adalah paham atau ideologi tentang kehidupan dengan kepercayaan bahwa sosio-ekonomi adalah penentunya. Teori ini memberi penekanan kepada kehidupan manusia yang sangat bergantung dan ditentukan oleh sistem sosio-ekonomi yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, marxis (penganut marxisme) memandang sejarah, budaya, serta kegiatan ekonomi masyarakat sangat relevan untuk memahami sesuatu masyarakat.

Marxisme atau komunisme lahir dari keadaan masyarakat industri Eropa. Revolusi Industri di Eropa pada abad-19, menghadirkan kesenjangan sosial di masyarakat. Kesenjangan ini terjadi antara kaum borjuis (pemilik modal) dengan kaum proletat, kaum petani miskin dengan para tuan tanah, warloaddan kapitalis.

Dari latar belakang pertentangan kelas tersebut lahirlah teori sastra Marxis—yang basisnya diambil dari filsafat Marxisme—. Usulan ini didasarkan  pada  satu  asumsi  bahwa  cerita dalam novel dan cerpen karya para sastrawan yang banyak membicarakan perlawanan kelas sosial bawah untuk mendapatkan hak-hak hidup mereka kepada para pemimpinnya atau majikannya.

Teori Marxisme hadir sebagai penentang paham kapitalisme dan merupakan dasar teori komunisme modern. Ia menentang paham kapitalisme baginya kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum, hasil pekerjaan mereka hanya dinikmati oleh kaum kapitalis. Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya “kepemilikan pribadi” dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx, kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Untuk menyejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Pemikiran marxisme tentang komunisme lahir karena dipicu meletusnya revolusi besar di daratan Eropa, yakni Revolusi Politik Kaum Borjuis di Prancis dan Revolusi Industri di Inggris. Revolusi kaum borjuis mengantar kaum borjuis berkuasa secara politik dan ekonomi. Sedangkan revolusi industri mengantarkan pada perkembangan yang pesat ekonomi industri yang bersifat kapitalis. Kegiatan industri berubah total, tenaga kerja manusia digeser oleh mesin-mesin. Keadaan sosial semakin memburuk, nilai tenaga buruh jatuh. Rakyat kecil dihisap dan ditindas oleh dua pihak, yang di kota mereka ditindas kaum kapitalis, sedang yang di desa ditindas kaum tuan tanah. Pengangguran, kemiskinan, dan kesenjangan sosial antara yang kaya dan miskin merajalela. Industri-industri besar menelan modal yang besar dan hal ini sama artinya dengan kekuasaan ekonomi di tangan segelintir orang. Karl Marx menunjukkan betapa kaum buruh menjadi semakin miskin. Lebih jelasnya teori ini tertuang dalam buku Manisfesto Komunis yang dibuat oleh Marx dan Friedrich Engels. Inilah dasar dari marxisme.

Dari uraian di atas, teori marxisme banyak membincangkan persoalan sosial dan masyarakat, ideologi, dan struktur sosial. Teori ini dilihat sangat relevan bagi menjelaskan kemunculan fenomena sastra. Sebagai salah satu produk sosial, karya sastra memiliki gubungan langsung dengan sistem sosial, keadaan masyarakat, dan pemikiran pengarang karya sastra tersebut. Di sanalah letaknya hubungan teori Marxisme yang pada asalnya sebuah teori ekonomi bagi menjelaskan hubungan kesusastraan dengan elemen sosial.

Melalui teori sastra Marxis ini pun dapat diungkapkan ideologi pengarang dan ideologi yang berkembang dalam masyarakat di tempat pengarang itu hidup.

Posting Komentar untuk "Teori Sastra Marxisme"