Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Teori Sastra George Wilhem Friedrich Hegel

Seni dan Keindahan Menurut Hegel

Menurut Hegel seni adalah karya yang diciptakan manusia melalui media indrawi dan ditunjukkan kepada tanggapan indrawi. Keindahan karya seni itu untuk menyatakan sebuah idea. Menurut Hegel keindahan adalah idea rasional yang diwujudkan dalam bentuk yang dapat dipersepsi oleh indrawi.

Mengenai keindahan, Hegel menyatakan bahwa seluruh bidang keindahan merupakan suatu momen (unsur dialektis) dalam perkembangan roh, geist, atau spirit menuju kesempurnaan. Hal itu  dapat  ditemukan  dalam  pengalaman manusia. Kedudukannya diambang antara yang jasmani dan yang rohani (materi  menuju roh, roh menjelma dalam materi tepat pada saat peralihan yang bermuka ganda itu dialami) dan bukan itu saja, karena sekaligus merupakan momen atau saat kebenaran atau pengertian dan kebaikan atau penghendakkan bersentuhan satu sama lain (maka tidak wajar masalah ”arti” atau ”nilai etis” dikemukakan dalam konteks kesenian). Momen itu tidak pernah dialami atau dapat ditunjukkan dalam bentuk yang “sempurna”, hanya dalam bentuk “penyimpangan-penyimpangan yang  indah”  dari   momen   keseimbangan   penyentuhan  atau   peralihan   itu.  Dengan  demikian muncullah kategori-kategori estetis, seperti yang sublim yaitu roh “menang” atas “materi”, ”yang lucu” atau ”yang humor” berarti “menang” atas nilai, “yang jelita atau gracious” yaitu nilai “mengalahkan" arti, tentu saja semua itu dalam batas keindahan itu sendiri, malahan yang sublim mempunyai unsur tragisnya dan sebaliknya, yang lucu dan yang jelita, yang pertama dilihat juga sebagai  yang mewakili kepriaan, yang kedua kewanitaan.

Bagi Hegel, seniman adalah orang yang genius karena selain yang bersangkutan  memiliki  bakat  alami,  maka bakat itu harus direnungi dan dikembangkan lewat kerja praktik dan penguasaan keterampilan menampilkan sesuatu. Jika genius harus dapat menampilkan sesuatu yang orisinal, maka  artinya sama saja dengan menampilkan yang objektif. Agar bisa orisinal dan obyektif, maka yang bersangkutan harus memiliki kebebasan dalam mencipta. Kebebasan itu ditunjukkan oleh kemampuannya mengobjektifikasi imajinasinya lewat medium dan teknik yang serasi, yang akan membawanya kepada tujuan yang ingin dicapai. Mencipta karya seni dan menghayatinya dalam medium seperti itu boleh dilihat sebagai upaya agar tidak terjadi ”pengendapan” perasaan. Yang indrawi itu harus menjadi wadah objektif kasi roh. Seni mengacu kepada perasaan, disamping kepada imajinasi.

Kebenaran dan keindahan menurut Hegel adalah satu dari hal yang sama. Bedanya hanya terletak pada kebenaran adalah ide itu sendiri dan adanya ada dan pada ide itu sendiri dan dapat dipikirkan. Manifestasinya keluar, tidak hanya  kebenaran saja, tetapi juga keindahan.

Hegel telah menegaskan bahwa filsafat keindahan (estetika) hanya berikatan dengan keindahan karya seni yang dihasilkan manusia. namun itu tidak berarti keindahan bahwa keindahan alam tidak perlu diperhatikan. Hegel tidak menampik bahwa keindahan terdapat dalam alam. dan alam merupakan hasil negasi roh, sebagai mana karya seni. Namun Hegel melihat perbedaan mendasar antara keindahan yang ada di alam dan yang ada pada karya seni. Menurutnya alam itu tidak sadar diri dan tidak bebas sedangkan roh atau yang absolut itu sadar, aktif, dan produktif. Dalam filsafat hukum Hegel mengatakan bahwa alam adalah schlaffender Geist 'roh yang tertidur'. Karena itu keindahan alam adalah keindahan yang tidak lengkap dan tidak sempurna.

Roh yang sadar; aktif itu bersemayam dalam diri manusia. Dengan menggunakan terminologi-terminologi yang pendasaran filosofinya di uraikan Hegel secara panjang lebar dalam ilmu logika-nya, roh demikian disebut Universalitas. Universalitas atau yang absolut, yang serba mencakup, dan yang telah mengatasi subjektivitas dan objektivitas itu di sebut ide. Ide adalah kesatuan unsur-unsur yang berposisi; subjektivitas, objektivitas, universitas dan partikularitas, abstrak-konkret, roh-materi, dsb. Karena itu bisa dikatakan bahwa seni adalah presentasi sekaligus partikularisasi ide. Isi seni adalah ide. Presentasi ide dalam bentuk indrawi itu disebut yang ideal. Bila ide menjadi realitas konkret, sesuai dengan konsep ide itu yakni sebagai kesatuan harmonis antar unsur-unsur yang berposisi, maka itulah yang disebut ideal. Yang ideal adalah yang indah atau keindahan. Keindahan adalah bila unsur-unsur berposisi itu berfungsi secara harmonis  dalam sebuah karya individualnya. Keindahan adalah penampakan murni dari das sinnliche Scheinen der Idee ‘ide secara indrawi’.

Hegel mengatakan bahwa setiap karya seni selalu merupakan kesatuan dari dua unsur; universalitas-partikularitas, dan kesatuan keduanya membentuk individualitas; karya seni tertentu. Bisa dikatakan pula jika setiap karya seni Individualitas adalah kesatuan dari unsur spiritualitas-material, subjektif-objektif, konsep-kenyataan. Unsur universalitas, spiritualitas atau subjektif, dalam karya seni tidak lain dari ide itu sendiri. Sementara unsur partikularitas, material atau objektif, adalah medium material unsur karya seni dibuat. Kedua unsur inilah yang menyatu dalam karya seni.

Menurutnya, fusi paling harmonis antara universalitas dan partikularitas itu terdapat dalam seni klasik, terutama seni patung-patung Yunani yang menggambarkan manusia atau dewa-dewa dalam preposisi fisik yang sangat sempurna. Seni klasik adalah puncak seni bagi karya seni. Namun Hegel tidak memandang seni hanya sebagai karya seni, melainkan manifestasi roh dalam bentuk indrawi, sehingga puncak karya seni menurut Hegel bukanlah seni klasik tetapi seni romantik. Dalam seni romantik, universalitas tidak berfungsi secara harmonis dengan partikularis, melainkan universalitas itu lebih dominan. Ini sesuai hakikat absolut yang bersifat spiritual tidak terbatas.

Untuk memenuhi estetika atau filsafat keindahan Hegel dengan tepat, kita harus terlebih dahulu melihat kedudukan seni dalam keseluruhan sistem filsafat. Seni adalah elemen sistematik yang tidak dapat dipisahkan dari sistem tersebut. Hegel membagi sistemnya ke dalam tiga momen besar. Momen di sini adalah tahapan-tahapan yang dilalui geist ‘roh’ dalam rangka merealisasikan dirinya. Menurutnya roh adalah pusat, subjek yang menjadi reason ‘dasar’, serta yang menghasilkan keseluruhan realitas. Berikut pemikiran Hegel tentang seni:

Seni dan Jiwa Absolut

Hakikat roh adalah tidak terbatas atau absolut mencakup segala-galanya. Yang absolut itu tidak memiliki kualitas atau determinasi tertentu. Ia bukan satuan, bukan pula a bing ‘peng-ada’: sesuatu itu an sich dengan sendirinya terbatas. Karena yang Absolut itu bukan sesuatu maka yang absolut itu adalah ketiadaan. Menurut Hegel yang  absolut adalah reines nichts ‘ketiadaan murni’ yang sama dengan seines sein ‘ada murni’ juga bidlosimageless’. Ia tidak bisa diimajinasikan atau dikonsepsikan sebagai sesuatu. Ia adalah ketiadaan itu sendiri. Yang Absolut dapat dipersepsi bila ia self-determination ‘mendeterminasi diri’ dengan cara self-negation ‘menegasi diri sendiri’. Dengan mendeterminasi diri, yang absolut itu membuat dirinya menjadi terbatas sebagaimana kita mengenal Tuhan dikenal melalui ciptaan-Nya. Determinasi itu salah satunya dengan mengambil bentuk indrawi dan itulah yang disebut seni. Seni adalah manifestasi yang absolut dalam bentuk indrawi tahu seni adalah partikularisasi dari ide atau yang absolut.

Negasi itu dilakukan yang absolut dalam rangka merealisasikan dirinya. Realisasi tercapai—roh menjadi absolut— bila ia telah menegasi kembali hasil negasi dirinya itu sendiri. Sebagai hasil dua kali negasi roh yang tidak terbatas itu telah mengandung yang terbatas dalam dirinya. Sehingga Hegel berpendapat bahwa yang tidak terbatas bukan berati tanpa limit atau ruang yang tanpa akhir, yang tidak terbatas adalah kesatuan dari yang terbatas dan tidak terbatas; yang terbatas adalah yang tidak terbatas dalam bentuk lain. Dengan bahasa agama, Allah yang tidak terbatas itu menegasi diri menjadi yang terbatas, itulah yang disebut kreasi yang menghasilkan kenyataan semesta. Dalam pandangan Hegel, ciptaan dan Allah bukanlah dua entitas yang saling mengekslusi, melainkan Allah yang tidak terbatas itu mencakup semua ciptaan yang terbatas dalam dirinya-Nya atau pan-theisme.

Relasi antar yang terbatas dan yang tidak terbatas ini mengandung implikasi bahwa yang terbatas bukanlah veritable being ‘ada yang sesungguhnya’. Yang terbatas itu fana dan negatif; terbatas berarti dibatasi oleh sesuatu yang lain. Yang terbatas adalah manifestasi dari yang tidak terbatas. Esensi yang terbatas adalah yang tidak terbatas.

Yang tidak terbatas menopang  dibalik yang terbatas.Tetapi yang tidak terbatas itu tidak terlihat; ia memperlihatkan diri dalam terbatas. Dengan demikian pengenalan yang berhenti pada yang terbatas, bukanlah pengenalan yang sesungguhnya  karena dalam pengenalan demikian, yang kita kenal berjumlah esensi sesungguhnya; kita hanya mengenal penampakan dari sebuah esensi. Sehingga untuk mengenal yang absolut tidak cukup dengan berhenti pada hal-hal terbatas. Pengenalan terhadap Allah SWT. tidak akan memadai jika kita berhenti hanya pada ciptaan, melainkan harus dicari pula sesuatu “di balik” ciptaan itu. Dengan itu sekaligus ditegaskan bahwa kita tidak dapat mengenal yang tidak terbatas itu secara langsung. Artinya pengenaan itu harus dimulai dari yang terbatas; indrawi, dari ciptaannya karena itu adalah medium bagi yang tidak terbatas untuk memanifestasikan diri. Dengan kata lain, yang terbatas justru penting sebagai titik tolak pertama untuk mengetahui yang tidak terbatas.

Prinsip-prinsip yang berlaku di sini sama dengan prinsip idealisme Hegel. Karena kebenaran atau yang absolut itu tidak berupa spiritual, maka yang absolut itu hanya bisa termanifestasikan secara sempurna memalui yang spiritual. Semakin tidak signifikan elemen material pada sebuah momen tertentu, maka semakin dekat momen itu ke kebenaran. Medium material ini sangat  penting dalam seni, kurang penting pada agama, dan tidak penting pada filsafat. Sama halnya medium material sangat menonjol pada seni simbolik, urang menonjol pada seni klasik, dan tidak menonjol pada seni romantik.

Tiga Bentuk Karya Seni; Simbolik, Klasik, dan Romantik

Menurut Hegel, ada tiga jenis hubungan antara ide dan pembentukannya secara indrawi dalam bentuk seni. Ketiga jenis hubungan itu melahirkan tiga bentuk karya seni, yakni seni simbolik, seni klasik, dan seni romantik. Dalam ketiga bentuk karya seni ini terdapat tiga karya seni puncak, yaitu seni simbol dengan seni arsitektur, seni klasik dengan seni patung, dan seni romantik adalah seni puisi. Hegel memahami perkembangan dialektis karya seni ini secara logis, yakni sebagai momen-momen realisasi roh yang semakin bebas dan rasional. Roh itu universal (serba mencakup), spiritual (tidak material), dan bebas. Sehingga jenis karya seni yang mampu mengekspresikan roh itu secara paling sempurna adalah seni yang paling tidak terikat pada hal-hal material, yang paling bersifat innerlife 'spiritual', bebas dan subjektif, itulah seni romantik yang berpuncak pada puisi (kebalikannya adalah seni simbolik yang masih sangat terikat hal-hal materi, tidak bebas, tidak subjektif). Dengan kata lain dapat dikatakan pula jika dalam seni simbolik ide didominasi oleh materi, seni klasik ide berfusi secara harmoni dengan materi, sementara seni romantik ide mendominasi materi.

Seni Simbolik

Seni ini dikatakan sebagai seni paling primitif dan kasar, walau Hegel tidak mengatakan demikian. Dalam seni ini, ide dipresentasikan murni dalam bentuk materi indrawi. Yang Absolut hanya diidentifikasikan melalui kesan dengan cara memanipulasi benda-benda alami. ide yang mengenai Ilahi hampir vulgar dan nyaris alami.  Materi seni simbolik adalah benda-benda natural yang belum banyak diolah dengan kekayaan dan aktivitas roh. Karena materi sangat dominan, maka seni ini berelasi negatif, jauh dari harmonis, dengan ide yang sesuai dengan hakikatnya bersifat non-indrawi.

Seni simbolik biasanya terdapat di Timur. Seperti Karya-karya seni kebudayaan panteisme di Timur, mistisme Arab, puisi-puisi Israel zaman Perjanjian Lama, dan berbagai karya seni yang terdapat di Persia, India, dan Palestina. Karya seni Asmat pun digolongkan pada jenis ini. Bentuk lain dari karya seni ini adalah gereja dan rumah, terutama rumah tradisional yang arsitekturnya mengandung simbol-simbol Ilahi berupa lukisan atau ornamen. Seperti diungkap di atas bahwa Arsitektur adalah puncak seni simbolik. Hegel mengatakan bahwa, seni ini sangat menekankan simbol-simbol kesucian keramat dan Ilahi. Misalnya Spinx, Obelix, dan Piramida dalam kebudayaan Mesir atau pagoda dalam kebudayaan Hindu. Dalam panteisme, benda-benda alam contohnya pohon beringin, dianggap inkarnasi Roh. Seni ini pun menggunakan hewan sebagai simbol-simbol yang Ilahi. ini ditemui dalam puisi-puisi Yahudi Kuno. Misalnya singa sebagai simbol keberanian yang kudus dan lembu jantan sebagai simbol kesuburan. Menurut Hegel, penggunaan simbol-sumber tersebut menggambarkan perjuangan roh untuk melepaskan diri dari dunia alami ke dunia manusiawi selanjutnya ke dunia Roh dalam seni romantik, sebagai mana termanifestasikan dalam seni klasik. Hegel menyebut Mesir sebagai "Negeri Simbol" dan Spinx sebagai “simbol dari simbol itu sendiri”.

Seni Klasik

Dalam seni klasik ide talah maju selangkah mendekati hakikatnya yakni ketidakterikatan pada materi. Di sini yang dominan bukan lagi materi indrawi, melainkan fusi harmonis antara  yang indrawi dan yang spiritual atau antara yang partikular dengan yang universal. Menurut Hegel, seni klasik memiliki ciri antromorfemis. Ide atau yang absolut tampil dalam bentuk manusia. Bila dalam seni simbolik hewan dianggap sebagai simbol yang Ilahi, dalam seni klasik hewan dianggap sebagai simbol kejahatan. Seni ini sangat diwarnai seni kebebasan yang merupakah salah satu esensi roh dan subjektivitas manusiawi. Hal ini tidak terdapat dalam seni simbolik. Seni simbolik justru diwarnai oleh inferioritas ‘kekuatan manusia terhadap alam’. Ideal seni klasik adalah fusi sempurna antara makna dan bentuk, spiritualitas dan korporalitas. Hal ini termanifestasikan dalam patung-patung Yunani. Hegel menganggap patung-patung itu merupakan puncak perkembangan seni klasik. Patung-patung tersebut ditampilkan sosok manusia ideal. Disini Roh mengalami keadaan cukup diri. Bila dalam seni simbolik roh hanya diindikasikan melalui kesan, dalam seni ini roh menjadi at home dalam materi yang menginterpretasikannya. Fusi harmonis atau interpenetrasi antara roh dan materi itulah merupakan keunggulan seni klasik sebagai seni. Tapi karena masih dalam wujud manusia dengan materi partikular, seni patung masih belum sesuai dengan hakikat roh. Sekalipun derajat pengolahan material alami telah jauh melampaui pengolahan material dalam seni simbolik.

Seni Romantik

Seni ini adalah sintesis dari dua seni sebelumnya sekaligus puncak inkrasi roh dalam seni. Seni ini membatalkan unifikasi ide dan realitas sebagaimana terdapat dalam salam dua bentuk seni sebelumnya. Materi dan bentuk tidak begitu dipentingkan. Kekurangan dua bentuk seni sebelumnya adalah keterikatan pada material sedangkah roh itu spiritual. Manifestasi sesungguhnya roh adalah inner life ‘bentuk pikiran atau batin’. Seni ini bertolak dari kedalaman batin, misalnya seni lukis, seni musik, dan puisi yang berada dalam dunia Kristen Barat, terutama Jerman. Di sini roh termanifestasikan dalam bentuk warna dan nada suara, hal-hal yang sifatnya kurang material dibandingkan materi dalam kedua bentuk seni sebelumnya.

Puncak seni ini adalah puisi. Puisi adalah seni dari seni sendiri. Puisi disebut sebagai seni universal, karena dalam modal utama dalam puisi adalah imajinasi yang terdapat dalam semua bentuk dan jenis karya seni. Puisi diseni jika bila dicontohkan dengan karya-karya penyair Jerman, misalnya Goethe, Schlegel, Hoelderin, dll. Puisi dan musik itu lebih “dalam”, subjektif, dan bebas. Di sini roh dipresentasikan nyaris tanpa materi, terutama puisi bekerja melalui imajinasi, ide, dan bahasa. Hegel dalam pengantar ilmu logikanya mengatakan jika bahasa adalah manifestasi utama roh dalam bentuk pikiran, karena manusia berpikir dengan bahasa. Jadi puisi adalah ekspresi batin yang paling dalam dan langsung dengan materi yang paling abstrak; suara. Sublimasi termanifestasi dalam seni ini. Ia mengatakan bahwa seni ini adalah seni yang sublim; mempresentasikanbeing ‘ada’, yang abstrak universal dengan cara yang paling sesuai dengan hakikat dari yang dipresentasikan itu.

Seni romantik juga merupakan momen roh berekonsiliasi dengan dirinya sendiri. Dalam dua seni sebelumnya, ide mengenai yang ilahi dipresentasikan dalam bentuk indrawi, sementara dalam seni ini roh tampil dalam bentuk indrawi itu kembali ditarik kembali ke inner life; roh kembali ke korporealitasnya ke dalam kehidupan batin atau rekonsiliasi. Di sini roh menyadari jika kebenarannya bukanlah pada ketertanamannya pada korporealitas indrawi, melainkan kedekatannya pada dirinya sendiri (spiritual). Isi sesungguhnya dari seni ini adalah absolute in wardness yang bebas. Ini sekaligus merupakan nagasi; segala sesuatu yang partikular. Seni ini mendapatkan inspirasi dari ajaran Kristen (Lautheran) yang menekankan kehidupan batin spiritual. Menurut Hegel, seni ini memusatkan diri pada kehidupan roh yang terdiri dari gerakan, aksi, penderitaan, dan konflik. Itu semua merupakan pengalaman Yesus yang menegasi dirinya menjadi apa yang bukan diri-Nya untuk mencapai tujuannya.

Dibandingkan dengan kedua bentuk seni sebelumnya, seni ini lebih menekankan kebebasan sang artis untuk mengekspresikan imajinasi dan intuisinya tanpa dibatasi oleh hal-hal material. Musik itu semacam cri dua coeur ‘jeritan batin’, ekspresi terdalam manusia. Sedangkan lirik-lirik puisi merupakan ekspresi yang sangat subjektif.  Jika dalam seni klasik religiositas sangat ditentukan oleh seni, seni romantik sangat ditentukan oleh religiositas Kristen. Karena itu greek religion is a religion of art, maka romatic berarti an art of region. Kedekatan seni romantik dengan Kristen inilah yang merupakan pintu dialektis gai momenperealisasian roh selanjutnya yaitu agama.

Simpulan

Hegel mengatakan bahwa konsep-konsep seni yang dikenal selama ini sebenarnya dihasilkan oleh filsafat yang menjadikan seni sebagai objeknya. Karena itu seni bisa dipahami secara logis konseptual bila ia merupakan bagian dari sistem filsafat.

Menurut Hegel seni adalah karya yang diciptakan manusia melalui media indrawi dan ditunjukkan kepada tanggapan indrawi. Keindahan karya seni itu untuk menyatakan sebuah idea. Menurut Hegel keindahan adalah idea rasional yang diwujudkan dalam bentuk yang dapat dipersepsi oleh indrawi. Mengenai keindahan, Hegel menyatakan bahwa seluruh bidang keindahan merupakan suatu momen (unsur dialektis) dalam perkembangan roh, geist, atau spirit menuju kesempurnaan. Hegel telah menegaskan bahwa filsafat keindahan (estetika) hanya berikatan dengan keindahan karya seni yang dihasilkan manusia. namun itu tidak berarti keindahan bahwa keindahan alam tidak perlu diperhatikan.

Seni dan jiwa absolute. Sesuatu yang Absolut adalah sumber Keindahan. Hal tersebut karena yang absolut itu berupa idea (Roh, Geist) maka yang indah sebenarnya  adalah bukan yang bersifat material.

Dalam teorinya, ia membagi karya seni menjadi tiga bagian: (1) Seni simbolik: Pada seni ini materi sangat dominan dibanding ide, puncak karya seni ini adalah arsitektur. (2) Seni klasik: Pada seni ini materi dan ide harmonis, puncak karya seni ini adalah patung. (3) Seni romantik: Pada seni ini Ide mendominasi dibanding materi. Seni ini adalah karya seni tertinggi. Puncak karya seni ini adalah puisi.

Sumber:

  • Andaf, Muhammad. 2011. Periodesasi Estetika. Dimuat di halaman website: http://andafeducation.blogspot.co.id/2011/10/periodesasi­estetika.html diakses pada tanggal 30 April 2017.
  • Mudji Sutrisno dkk..2015. Teks-teks Kunci Estetika: Filsafat Seni. Galang Press: Yogyakarta.
  • Rudini. 2015. Makalah Filsafat Estetika. Dimuat di halaman website: http://rudinifilsafat.blogspot.co.id/2015/03/normal­0­false­false­false­en­us­x­none.html diakses pada tanggal 30 April 2017.
  • Sokah, Umar Asasudin. 2008. George Wilhem Friedrich Hegel (1770-1831): Pemikirannya Tentang Ide dan Sejarah. Dimuat di halaman website: http://digilib.uinsuka.ac.id/477 diakses pada tanggal 15 April 202017.
  • Susilo H, Nanang. 2012. Horizon Estetika. Dimuat di halaman website: http://nanang­susilo.blogspot.co.id/2012/04/makalah­horizon­estetika.html  diakses pada tanggal 30 April 2017.

Posting Komentar untuk "Teori Sastra George Wilhem Friedrich Hegel"