Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Aliran Romantisme dalam Sastra


Romantisme adalah salah satu aliran karya sastra yang menekankan pada perasaan sebagai dasar perwujudan. Romantisme adalah gerakan kesenian yang mendominasikan perasaan, imajinasi, dan intuisi. Selain itu romantisme juga menjadikan imajinasi individu sebagai otoritas kritis sehingga membebaskan diri dari pemahaman klasik tentang bentuk dalam seni.
Djoko Damono dan Saikani K. M. menguraikan munculnya aliran romantisme di Eropa sebagai reaksi terhadap satu aliran yang disebut sebagai Klasisisme, yang menitik beratkan pada keseimbangan, aturan dan konvensi dala seni, mengedepankan intelektualitas dan rasio, objektivitas serta 4 orientasi budaya yang mengacu pada tatanan sosial politik yang didominasi oleh kaum elit bangsawan dan agamawan.
Tujuan utama aliran romantisme yang berkembang akhir abad ke-18 ini adalah agar pembaca ataupun pendengar tersentuh emosinya. Karena bertujuan untuk membuat pendengar dalam hal ini mendengarkan lagu yang dibawakan oleh penyanyi, maka yang perlu diperhatikan adalah unsur-usur lagu, yaitu karakteristik penuangan ekspresi lewat yaitu adanya melodi dan notasi musik yang disesuaikan dengan kata/kalimat sehingga penikmat mudah terbawa dalam alam batin pengarangnya.
Untuk menyampaikan alam batinnya, pengarang berupaya menciptakan daya ekspresi tertentu yaitu melakukan manipulasi bahasa. Pemanipulasian bahasa ini antara lain berupa permainan vokal, gaya bahasa, penyimpangan makna kata, pilahan kata (diksi) dan sebagainya.
Luxemburg, menyatakan “teks-teks puisi tidak hanya mencakup jenis-jenis sastra, melainkan pula ungkapan yang bersifat pepatah, pesan iklan, semboyan politik, syair-syair lagu pop, dan doa-doa”.
Ada beberapa ciri yang sangat dalam aliran romantisme. Ciri-ciri romantisme meliputi (1) kembali ke alam, (2) individual, (3) keprimitifan, (4) sentimental, (5) melankolik.


Posting Komentar untuk "Aliran Romantisme dalam Sastra"